Pengaruh Gaya Kepemimpinan terhadap Semangat Kerja Karyawan

Pertanyaan

Apakah gaya kepemimpinan sangat berpengaruh terhadap semangat kerja karyawan?

Irsam

Jawaban

Gaya kepemimpinan sangat berpengaruh terhadap iklim kerja. Kondisi iklim kerja akan mempengaruhi kondisi motivasi dan semangat kerja karyawan. Jika gaya kepemimpinan sesuai dengan situasi yang dihadapi dalam organisasi atau unit kerja, maka akan membuat iklim kerja menjadi kondusif, dan pada akhirnya akan memberi motivasi yang tinggi bagi karyawan untuk memberikan yang terbaik dalam mencapai target kerja (bahkan memberikan extra ordinary atau discretionary efforts).

Survei yang pernah saya lakukan pada waktu saya bekerja di Hay Group bekerjasama dengan Majalah SWA, faktor yang signifikan berpengaruh terhadap tingkat keterlibatan karyawan dalam menghasilkan kinerja tinggi (engaged performance) di antaranya aspek kepemimpinan, yang di dalamnya juga terkait dengan aspek komunikasi dan arahan dari pimpinan ke seluruh anggota organisasi atau unit kerja.

Survei lain yang dilakukan oleh salah satu consulting firm global juga menyatakan bahwa naik turunnya iklim kerja sebesar 70% dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan, dan kemudian naik turunnya kinerja sebesar 30% dipengaruhi oleh iklim kerja. Jadi, jika mau memperbaiki kinerja 30% lebih tinggi, cukup dengan memperbaiki iklim kerja, dan gaya kepemimpinan (dengan catatan faktor-faktor lain dianggap tetap atau stabil).

Hal-hal itu semua menunjukkan bagaimana kritikalnya peran pemimpin di setiap lapisan organisasi dalam menentukan motivasi karyawan, melalui iklim kerja yang diciptakannya.

sumber : portalhr.com

Pola Pengembangan SDM yang Baik

Pertanyaan

Bapak Yodhia,
Saya ingin memperdalam tentang pengembangan SDM. Bagaimana tahapan-tahapannya, dan seperti apa pola pengembangannya? Itu saja. Terima kasih.

Faisal W.Sutrisno – Parafone Group, Manado

Jawaban

Pak Faisal,

Tahapan pengembangan SDM sebaiknya dimulai dari tahap pertama, yakni identifikasi kebutuhan pengembangan. Dalam tahapan ini, kita sejatinya hendak menggali proses pengembangan apa yang paling cocok bagi individu tertentu. Dalam proses ini kita melakukan asesmen mengenai strenghts dan areas for development dari tiap individu (karyawan). Asesmen dapat dilakukan dengan melalui pola assessment center atau juga melalui observasi dan evaluasi dari atasan masing-masing (cara ini lebih praktis dibanding harus menggunakan assessment center).

Dari hasil asesmen tersebut kita kemudian bisa merumuskan program pengembangan apa yang cocok bagi karyawan yang bersangkutan. Sebaiknya perumusan program pengembangan hasil asesmen ini tidak hanya didasarkan pada kelemahan karyawan, namun justru harus lebih bertumpu pada kekuatan yang dimiliki oleh karyawan tersebut (pendekatan semacam ini disebut sebagai strenght-based development) . Menurut riset, pendekatan semacam ini lebih efektif dibanding pendekatan yang bertumpu pada kelemahan individu.

Jenis program atau proses pengembangan yang disusun juga tidak mesti harus berupa training di kelas. Ada banyak alternatif program pengembangan lain seperti:
1. mentoring (karyawan yang dianggap senior dan memiliki keahlian khusus menjadi mentor bagi sejumlah karyawan lainnya)
2. project/special assignment (penugasan khusus untuk menambah job exposure)
3. job enrichmnet (memperkaya bobot pekerjaan)
4. On-the-job training.

Tahapan berikutnya adalah monitoring dan evaluasi pelaksanaan program pengembangan yang telah disusun. Dalam fase ini, setiap progres pelaksanaan program dimonitor efektivitasnya dan kemudian pada akhir program dievaluasi dampaknya terhadap peningkatan kinerja karyawan yang bersangkutan, dan juga pada kinerja bisnis.

Serangkaian tahapan di atas — mulai dari fase identifikasi, fase penyusunan program pengembangan dan fase monitoring/evaluasi — sebaiknya dibakukan dalam mekanisme yang sistematis dan tersandar. Sebaiknya disusun juga semacam buku panduan lengkap untuk melakukan serangkaian proses di atas, disertai tools yang diperlukan. Dengan demikian, setiap manajer atau karyawan paham akan apa yang mesti dilakukan.

Tentu saja, harus ada pengelola dari departemen SDM yang bertugas khusus untuk memastikan bahwa serangkaian proses di atas dapat dilakukan dengan benar dan tertib. Pola semacam inilah yang mesti dilakukan jika perusahaan Anda benar-benar ingin mendayagunakan potensi setiap SDM-nya secara optimal.

sumber : portalhr.com

Produktivitas Karyawan, Bagaimana Mengukurnya?

sebuah pertanyaan seperti judul di atas muncul dari seorang HRD,

“Saya HRD sebuah perusahaan industri makanan dan saat ini saya sedang membuat standar produktivitas tenaga kerja mulai dari job class sampai ke kapasitas ton yang dihasilkan. Pertanyaan saya, apa yang harus dilakukan bila kita ingin mengukur produktivitas tersebut?”

Jawaban :

Terima kasih ibu atas pertanyaannya. Untuk mengukur produktivitas tenaga kerja, setidaknya terdapat dua langkah utama yang harus dilakukan.

1. Menentukan Indikator Produktivitas

Yang pertama adalah mengidentifikasi indikator produktivitas yang relevan untuk masing-masing jenis jabatan/posisi. Proses identifikasi ini dapat dilakukan dengan cara merumuskan hasil apa yang diharapkan dari masing-masing posisi tersebut. Dari sini kemudian dapat ditentukan indikator produktivitas yang terukur, jelas dan relevan. Contoh konkret indikator produktivitas adalah sebagai berikut.

Untuk posisi di bagian produksi, maka indikatornya dapat berupa:
— jumlah produksi yang dihasilkan per shift
— persentase jumlah produk cacat dibanding total produk yang dihasilkan (produk yang cacat sesungguhnya juga merupakan faktor pengurang produktivitas sebab proses re-work untuk memperbaiki produk cacat sangat menyita waktu dan energi).

Untuk posisi di bagian maintenance, maka indikatornya dapat berupa: rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk memperbaiki kerusakan mesin produksi

Untuk posisi di bagian warehouse/gudang, maka indikatornya dapat berupa:
— Jumlah barang (dalam ukuran ton) yang dapat dikeluarkan dari gudang per jam
— Jumlah barang (dalam ukuran ton) yang dapat dimasukkan ke dalam gudang per jam

Untuk posisi di bagian keuangan, maka indikatornya dapat berupa: rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan setiap jenis laporan keuangan dan akuntansi

Untuk posisi di bagian penjualan, maka indikatornya dapat berupa:
— Jumlah penjualan (dalam rupiah) per salesman
— Jumlah kunjungan ke outlet penjualan per hari

2. Menentukan Standar Produktivitas

Setelah Anda dapat menentukan daftar indikator produktivitas yang relevan dan lengkap untuk beragam posisi dalam perusahaan Anda, maka langkah berikutnya menentukan standar produktivitas yang diharapkan. Misalnya, standar produksi per shift 1000 ton. Atau, standar rata-rata waktu untuk memperbaiki kerusakan mesin produksi 8 jam efektif. Standar ini bisa Anda peroleh dengan dua cara.

Pertama, membandingkan dengan standar rata-rata industri. Data standar rata-rata industri ini bisa Anda peroleh melalui asosiasi industri di mana perusahaan Anda berkiprah. Cara kedua, dengan melakukan observasi terhadap level produktivitas yang selama ini terjadi dalam perusahaan Anda. Dari observasi di lapangan ini Anda bisa mengestimasi berapa kira-kira standar produktivitas yang ideal.

Demikian jawaban atas pertanyaan Ibu. Mudah-mudahan bermanfaat.

sumber : portalhr.com