KETIKA MOTIVASI BEKERJA MENURUN

Banyak orang menyebut motivasi seperti air laut. Masa pasang surut datang silih berganti sesuai dengan kondisi alam yang terjadi saat itu. Ketika pasang datang, air laut dapat mengangkat apa saja yang ada di permukaan. Bahkan tak jarang melimpahkan airnya ke daratan. Begitu pula ketika surut tiba, semuanya ikut hilang dari permukaan. Nah, motivasi tak ubahnya pasang surut air laut tadi.

Yang berbeda dengan pasang surut air laut tadi adalah dampak dari naik turunnya motivasi. “Motivasi berhubungan langsung dengan semangat kerja seseorang,” kata Brian Tracy, konsultan Total Training Network. Saat motivasi naik, semangat bekerja luar biasa untuk menghasilkan yang terbaik. Yang perlu dipahami setiap orang adalah motivasi merupakan rangsangan bagi setiap untuk bekeja lebih baik. Semakin tinggi motivasi seseorang, maka semakin tinggi pula semangat kerja untuk menghasilkan yang terbaik.

Begitu pula sebaliknya ketika motivasi berada pada titik terendah. Apalagi jika sampai terjun bebas ke titik toleransi terendah, bisa-bisa tak ada target yang dapat dicapai. Dalam kondisi seperti ini perlu dicari akar penyebab hilangnya motivasi bekerja. Namun, tak semua orang menyadari mencari akar permasalahan tadi. Bahkan tak jarang mereka makin terpuruk hingga hasil kerja tak memenuhi standar yang ditentukan.

Saat kondisi seperti itu Anda alami ada baiknya menelisik akar permasalahan yang menyebabkan Anda terpuruk dalam kerendahan motivasi. “Cobalah Anda tinjau ulang apa yang telah Anda dapatkan selama ini,” kata Brian. Mungkin ada rasa tidak puas dengan pendapatan dari kantor Anda bekerja setelah sekian lama Anda memberikan yang terbaik. Ada baiknya jika Anda memiliki standar pembanding pendapatan dan tanggung jawab Anda dengan orang yang setara dengan Anda.

Dalam hal ini tidak ada yang perlu ditutupi bahwa setiap orang bekerja ingin mendapatkan penghargaan berupa penghasilan tadi. Jika pekerjaan orang dihargai sesuai dengan jerih payah yang dikeluarkan, tentu berdampak positif pada motivasi dirinya untuk bekerja lebih baik. Apalagi jika Anda dituntut tanggung jawab lebih di rumah seperti kehadiran anak. Tak ada yang menyangsikan semakin tinggi pendapatan seseorang, maka semakin tinggi pula motivasinya. Dengan begitu seorang karyawan tidak perlu berpikir mencari lahan lain untuk menambah pendapatannya.

Pendapatan memang bukan satu-satunya faktor yang membuat motivasi surut. Keadaan di sekitar tempat kerja yang kurang kondusif ikut berpengaruh. Bagaimana akan bekerja baik jika di rekan-rekan kerja tidak bisa diajak bekerja sama dan fasilitas kerja yang minim. Dalam keadaan seperti ini sulit mengharapkan karyawan bekerja sesuai standar yang diminta. Kondisi ini makin parah manakala Anda menjalankan pekerjaan yang itu itu saja tanpa ada rotasi yang proporsional.

Setiap orang hendaknya menyadari daya konsentrasi dan ketahanan diri. Ini penting untuk mengetahui pada tahap mana kejenuhan Anda hadir. Saat rasa jenuh itu biasanya menyebabkan seseorang tidak memiliki semangat untuk mengerjakan sesuatu. Nah, pada tahap seperti ini hendaknya pandai-pandai mencari cara menyelesaikan pekerjaan dengan pola baru. “Tidak ada salahnya Anda mencoba hal baru sepanjang hasilnya positif,” kata Brian.

Dengan menghadirkan suasana dan pola kerja baru, motivasi Anda akan terangsang dengan sendirinya karena menemukan tantangan baru. Dengan begitu semangat yang sempat turun akan bangkit dengan sendirinya. Biasanya hal ini tanpa disadari berjalan begitu saja mengikuti hal-hal baru. Dan tak ada salahnya anda mencari mitra kerja baru sejauh tidak mengganggu sistem yang sudah ada.

Selain itu motivasi biasanya berhubungan dengan sebuah target yang hendak dicapai. Target jangka pendek seringkali berhubungan dengan kebutuhan sehari-hari yang harus dipenuhi. Sedangkan target jangka panjang berbentuk visi dan tujuan hidup secara keseluruhan. Orang yang memiliki tujuan hidup jelas, biasanya termotivasi untuk meraihnya. Ada sesuatu yang diharapkan dalam jangka waktu tertentu. Dengan begitu motivasi akan muncul untuk mewujudkan tujuan tadi.

Jika setiap orang memahami permasalahan dirinya, maka dengan mudah melakukan identifikasi persoalan hingga merumuskan satu jawaban. Motivasi yang diyakini sebagai stimulus diri pun perlu dirumuskan kapan dalam kondisi pasang dan kapan berada di titik surut. Faktor luar memang berperan memotivasi diri, tapi faktor dalam diri seseorang tak bisa diabaikan begitu saja. Bahkan pada beberapa orang faktor dalam diri menjadi faktor mutlak naik turunnya motivasi.

Sumber : GloriaNet

%d blogger menyukai ini: