Rekan Baru Anda Bukan Ancaman!

Kehadiran orang-orang baru di lingkungan perusahaan adalah hal yang biasa. Karena kehadiran mereka kerap dibutuhkan untuk memenuhi beban kerja perusahaan yang semakin meningkat atau dalam rangka memperluas jaringan usaha. Perusahaan-perusahaan besar yang telah melakukan merger ataupun akuisi dengan perusahaan sejenis lainnya otomatis juga akan menambah kehadiran rekan-rekan baru bagi anda.

Namun tak jarang kehadiran orang baru dengan segala kelebihannya dianggap suatu ancaman bagi sebagian karyawan. Rekan baru yang smart, berpendidikan tinggi, gesit, apalagi ditunjang penampilan yang ‘borju’ sekilas bagaikan meteor yang siap melesat dan mengancam posisi anda.

Padahal rekan baru tersebut sebenarnya harus disambut dengan positif dan gembira. Karena bukankah dengan hadirnya rekan baru berarti menambah jumlah teman yang sudah anda miliki sebelumnya? Tapi masalahnya, tidak semua orang bisa bersikap demikian. Reaksi yang muncul dengan hadirnya orang baru cukup beragam. Ada yang menolak, ragu-ragu tetapi tidak sedikit juga yang mau menerima dengan tangan terbuka. Berikut ini adalah sedikit penjelasan tentang sikap menerima kehadiran orang baru.

* Menolak. Kelompok yang menolak kehadiran orang baru, umumnya belum apa-apa sudah menunjukkan gejala penolakan, meskipun pendatang baru tidak menunjukkan sikap dan tingkah laku yang merugikan. Anehnya kelompok ini enggan menjelaskan ihwal penolakannya. Biasanya selanjutnya, kelompok ini merasa di pihak yang tidak pernah puas dan selalu bermasalah dengan mencari-cari kelemahan orang baru.

* Ragu-ragu. Kelompok ini biasanya diliputi ragu-ragu antara menerima dan menolak kehadiran rekan baru. Alasannya pun beragam ada yang terkejut, iri, terancam, minder, merasa lebih senior, dan tidak butuh. Reaksi kelompok ini pun macam-macam, ada yang menjaga jarak dengan pendatang baru, ada yang diam-diam menjadi pengamat kritis bagi rekan baru bahkan ada yang terang-terangan mencibir.

* Menerima. Mereka adalah orang-orang yang bersikap positif atas kehadiran orang baru. Potensi rekan baru oleh mereka dianggap sebagai pemacu semangat kerja sekaligus untuk mengukur potensi dirinya.

Nah kini bagaimana dengan sikap anda sendiri terhadap rekan-rekan baru di lingkungan anda? Apakah anda menolak, ragu-ragu atau menerima? Tetapi apapun judulnya, tidak perlu ada perasaan cemas dan khawatir dengan kehadiran orang baru. Toh sepandai-pandainya rekan baru tetap saja ia membutuhkan kerjasama dengan anda.

Setelah anda yakin tidak ada yang perlu dikhawatirkan, tak ada salahnya jika anda bersikap terbuka terhadap mereka. Anggap saja mereka sebagaimana layaknya ‘anggota keluarga baru’ yang akan bekerja bersama-sama dengan ‘keluarga besar’ anda. Karena tentu anda sendiri akan merasa tidak nyaman jika bekerjasama dalam suasana yang ‘dingin’ dan tak bersahabat kan? Karena bisa saja sebenarnya rekan baru itu sama ‘keder’nya dengan anda. Artinya sebenarnya merekapun memiliki kecemasan dan perasaan yang sama dengan anda. Atau bisa jadi lebih cemas dan terancam dengan kehadiran anda. Jadi dengan menerima mereka sebagai anggota keluarga, semua perasaan tersebut akan hilang dengan sendirinya.

Kemudian hal yang tak kalah penting adalah jangan terjebak pada kesan pertama yang tidak seluruhnya benar. Karena tidak ada sumber yang paling akurat selain rekan baru itu sendiri. Ingat, kesan pertama secara subyektif tak terlepas dari distorsi. Lebih baik anda teropong rekan baru anda secara positif. Perhatikan kelebihan dan hal-hal positif rekan baru anda. Jika memang banyak hal positif yang bisa dipelajari dari rekan baru, tak ada salahnya jika anda mengadopsi hal positif tersebut.

Intinya dari semua hal tersebut adalah anda harus pintar memposisikan diri. Karena jika anda cukup ‘smart’ memposisikan diri tak jarang anda akan mampu mengambil strategi aliansi bukan strategi agitator yang memicu persaingan tak sehat dan konflik. Sehingga anda tetap dapat nyaman bekerja dengan kehadiran rekan baru, bukan? So, selamat berkolaborasi dengan rekan baru…!

Sumber : GloriaNet

Iklan

MEJA KERJA DAN SIFAT ANDA

Meja kerja, sepele namun bermakna banyak. Mungkin Anda tidak peduli bagaimana desain atau tata letak meja Anda. Anda hanya menilik segi fungsi dari meja tersebut ketimbang aksesoris yang melekat di meja. Mungkin juga di atas meja Anda terpampang rapi pernak-pernik kesukaan Anda. Asal Anda tahu meja kerja Anda mencerminkan siapa diri Anda!

Lisa Kanarek, pengarang buku Everything’s Organized, membahas mengenai meja kantor yang bisa menyingkap sifat Anda sebenarnya pada si bos. Coba Anda simak tipe berikut:

Si bingung dan berantakan
Ciri-cirinya? Mejanya dipenuhi dengan majalah, memo-memo lama, dan surat yang belum dibuka.

Ini membuktikan bahwa si pemilik meja kadang kreatif, tapi Anda kelihatan tidak bisa diandalkan, mudah panik, dan tidak bisa membagi pekerjaan dengan baik.

Makanya, buruan bereskan meja Anda dengan mengaturnya menjadi lebih baik. Gunakan ordner untuk mem-file kertas-kertas yang berantakan di atas meja, tumpuklan kontainer khusus di lantai untuk materi proyek, dan pasanglah cork board supaya Anda bisa mengatur pekerjaan dengan lebih baik. Coba, bereskan meja Anda seminggu sekali, oke!

Si disiplin namun sedikit licik
Ciri-cirinya? Mejanya hampir kosong melompong. Hanya ada komputer, printer dan kalender di atasnya.

Ini membuktikan bahwa si pemilik meja serius, dan selalu terorientasi pada satu masalah. Orang tersebut kelihatan sudah didekati dan kurang memiliki sense of humor.

Makanya, buruan deh bereskan meja Anda dengan meletakkan foto keluarga di atas meja, atau kalender berwarna-warni, untuk menambah kehangatan pada meja dan kepribadian Anda.

Si periang namun sedikit galak
Ciri-cirinya?Telepon, peralatan menulis, dan semua barang yang ada di meja Anda, berwarna senada. Daftar pekerjaan yang harus dikerjakan hari ini, selalu ditandainya. Biasanya dia menempelkan moto kerja, persis di sebelah papan memo.

Ini membuktikan bahwa si pemilik adalah penghibur orang sekantor, dan bisa diandalkan. Sayangnya, si pemilik meja tersebut terlalu konvensional dan kurang profesional.

Makanya, buruan deh, bereskan meja Anda dengan memajang buku-buku referensi dan benda seni yang menarik. Pokoknya apa saja yang membuat Anda kelihatan lebih serius, oke.

Nah, bagaimana dengan Anda sendiri? Serupakah meja kerja dengan kepribadian Anda?

Sumber : GloriaNet

Dunia Kerja: Company Outing, Sehatkan Mental Anda!

Acara ‘Company Outing’ di perusahaan besar seringkali diadakan dalam rangka mengakrabkan dan mempererat tali silahturahmi antar karyawan. Acara ini bisa juga diadakan dalam rangka memperingati moment penting, misalnya ulang tahun perusahaan, merayakan suksesnya akuisisi perusahaan dengan perusahaan lain, ataupun untuk sekedar mempertemukan personil perusahaan mulai dari bos sampai bawahan.

Biasanya dari pucuk pimpinan sampai lini terbawah dilibatkan dalam kegiatan rekreatif semacam ini. Karena itu umumnya acara ini dilakukan di luar jam kantor ataupun hari libur.

Memangnya apa sih company outing itu? Company outing adalah suatu kegiatan di luar jam kantor dengan suasana sosial rekreatif. Acara semacam ini bisa berlangsung di alam terbuka (lapangan), hotel, rumah makan atau café. Masalahnya, selama ini banyak yang mempertanyakan manfaat company outing. Banyak yang merasa tidak perlu menghadiri acara seperti ini dengan alasan malas, lelah, dan buang-buang waktu.

Padahal acara semacam ini seringkali memberikan nuansa berbeda dengan keseharian di kantor. Karena acara ini biasanya dikemas dalam suasana yang lebih rileks dan diisi dengan berbagai acara permainan dan hiburan. Mungkin sebagian dari anda akan bertanya apa manfaat company outing jika orang-orang yang hadir adalah orang-orang yang sama dengan yang anda jumpai di kantor saat bekerja. Jika anda salah satu dari yang mempertanyakan, simak deh ulasan singkat berikut ini.

Pertemuan nonformal seperti ‘company outing’ merupakan pilihan yang cukup bijaksana untuk memerangi rasa stres dan jenuh akibat pekerjaan sehari-hari. Karena umumnya orang dewasa senang bersama-sama dengan orang lain dalam suasana santai rekreatif. Dalam suasana ini anda bisa lebih bebas berbincang-bincang ringan dengan teman, bos, anak buah, ataupun dengan rekan-rekan dari divisi lain.

Percakapan anda dengan rekan dari divisi lain pada acara ini, akan menambah pengetahuan dan wawasan anda tentang bidang mereka. Dengan demikian, anda bisa mengetahui lebih banyak daripada yang anda ketahui dalam keseharian. Bahkan bukan tidak mungkin, acara ini akan membuka jalan bagi pertemanan dan persahabatan baru bagi anda dengan salah satu dari mereka.

Jika anda merasa orang yang tidak atau kurang pandai dalam bergaul di kantor, acara semacam ini bisa menjadi ajang untuk mengasah ketrampilan anda dalam bergaul. Karena dengan bertemu dengan banyak orang, akan memaksa anda untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan mereka. Jika anda kesulitan untuk memulai percakapan, mulailah dari hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan, suasana ‘outing’, hobi, dll.

Dengan melakukan interaksi maupun mengamati cara orang berinteraksi dengan orang lain, tanpa anda sadari anda telah belajar dan memperoleh sesuatu. Dengan tanya jawab ringan yang anda lakukan dengan rekan-rekan, membuat anda mendapatkan banyak informasi. Mulai dari yang berbau gosip, pengetahuan sampai isu-isu tentang kebijakan baru perusahaan. Pendek kata, acara semacam ini membuat anda tidak ketinggalan berita. Bahkan kalau isi pertemuan mengandung bobot pengetahuan umum dan wawasan dunia kerja, maka akan bertambah pula kualitas diri anda secara pribadi maupun profesional. Hal ini belum tentu anda dapatkan jika anda tidak mengikuti kesempatan ‘outing’.

Suasana rileks dan santai dalam pertemuan ini memungkinkan anda lebih bebas untuk berekpresi sekaligus mengamati ekspresi orang lain. Anda bebas ngobrol, melemparkan joke, dan mengemukakan ide. Anda juga bebas mendengar, melihat, dan menikmati suasana yang benar-benar rileks dengan rekan-rekan kantor anda. Hal ini juga akan melatih kepekaan anda terhadap rekan-rekan yang selama ini luput dari perhatian anda. Bahkan acara semacam ini dapat membuka mata anda tentang karakter rekan anda sebenarnya, yang tidak terlihat jika berada dalam suasana kerja yang sibuk dan stres.

Kesimpulannya, suasana yang cukup bebas ini akan membuat anda menjadi ‘manusia kembali’ setelah didera ‘deadline’ atau dikejar-kejar tugas. Dengan demikian, aktivitas semacam ini akan menambah kesehatan mental anda. Nah bagi anda yang ‘malas’ menghadiri acara ini, buktikan manfaatnya dengan menghadirinya. Karena kalau anda tidak pernah ikut serta, bagaimana anda bisa membuktikannya..?

Sumber : GloriaNet

TINGKATKAN GAIRAH KERJA DENGAN MUSIK!

Bisa dipastikan siapapun menyukai musik. Dari anak-anak, remaja, dewasa, sampai kakek-nenek. Memang, musik itu sangat universal. Alunan suaranya mampu membuai dan membius telinga pendengarnya. Karena itu nggak salah jika banyak yang menganggap bahwa musik adalah terapi hidup yang harus selalu dilestarikan.

Saat suntuk, lelah, stres, atau bahkan sakit, musik bisa menjadi obat mujarab yang dapat mengembalikan gairah dan semangat hidup. Makanya, musik begitu digemari oleh berbagai kalangan termasuk para eksekutif dan pekerja kantoran. Anda juga termasuk salah satu penggemar musik bukan?

Bagi penggemar musik, mungkin saat bangun tidur bukan langsung mandi yang dilakukan, melainkan menyetel musik! Konon, menyambut pagi dengan alunan musik, membuat hidup Anda menjadi lebih ceria. Dan Anda pun lebih bergairah berangkat kerja. So, nggak ada salahnya loh kalo sebelum berangkat ke kantor, Anda dengarkan musik kesayangan Anda di rumah.

Musik yang Anda dengarkan di pagi hari diyakini dapat membuat Anda lebih optimis. Sehingga Anda pun siap menghadapi sejumlah tantangan di luar sana. Anda siap menghadapi tuntutan hidup yang tidak ringan, termasuk siap menyelesaikan semua tugas-tugas dan pekerjaan Anda.

Belum cukup dengerin musik di rumah? Kalau perlu nikmati juga musik di perjalanan. Jika Anda mengemudikan mobil pribadi, setel musik kesukaan Anda di tape mobil. Jika jalanan macet, musik ini bisa sedikit menghibur Anda. Kalau pun Anda mesti naik kendaraan umum, Anda masih bisa kok dengerin musik. Caranya, bawa walkman dari rumah. Nah dalam bus umum yang penuh sesak sekalipun Anda masih bisa dengerin musik kesayangan Anda. Seru kan?

Saat bekerja di kantor pun juga begitu. Sambil kerja paling asyik dengerin musik. Nyalakan musik dengan volume ringan. Kalau perlu, biar nggak mengganggu yang lain dengarkan musik pake alat bantu dengar (headset). Konon, musik yang Anda dengarkan saat bekerja, bisa meningkatkan gairah Anda sekaligus menenangkan pikiran. Dan pengaruhnya, bisa menyegarkan otak hingga Anda bisa menghasilkan karya yang lebih baik.

Makanya belakangan ini para ibu hamil dianjurkan mendengarkan musik biar anaknya cerdas. Padahal pengaruhnya, karena musik, terutama musik klasik membuat pendengarnya lebih tenang dan rileks. Dan ketenangan ibu hamil berpengaruh pada perkembangan janin.

Makanya, nggak ada salahnya loh Anda lengkapi hari-hari Anda dengan musik. Sejak bangun tidur, di perjalanan, kerja, dan sampai menjelang tidur lagi, musik bisa menjadi teman yang menyenangkan bagi hidup Anda. Kalo lagi bete dikantor karena dikejar deadline atau karena tanggung bulan belom gajian, daripada manyun lebih baik hibur diri Anda dengan musik. Dijamin, beban Anda akan berkurang.

Pengaruh musik itu sendiri terhadap karir walaupun nggak langsung, jelas ada. Karena semangat yang ditimbulkan lewat musik, Anda pun seakan punya kekuatan dan energi lebih untuk menuntaskan pekerjaan. Coba liat aja deh, para bos besar di kantor pasti juga suka musik. Nah mulai sekarang lengkapi deh hari-hari Anda dengan musik, termasuk saat Anda lagi konsen bekerja. Kalau pengaruhnya bagus, why not?

Sumber : GloriaNet

BEKERJA DENGAN FASILITAS TERBATAS

Di tengah krisis ekonomi masih membelit maka bekerja dengan fasilitas terbatas memang lumrah-lumrah saja. Hal itu disebabkan belanja perusahaan pun sudah mulai dikurangi atau ditekan. Singkatnya penghematan besar-besaran sudah pasti dilakukan.

Pertanyaan kini bagaimana siasat Anda bekerja dengan fasilitas terbatas itu? Berikut Anda simak kiat hemat bekerja dengan fasilitas terbatas itu:

* Peralatan kerja
Penghematan pemakaian peralatan perlu lebih ditekankan agar biaya tidak semakin membengkak. Misalnya komputer, internet, mesin faks, mesin foto kopi dll. Jangan memakainya untuk kepentingan pribadi. Karena pemakaian untuk pribadi terlebih dalam waktu lama hanyalah suatu pemborosan yang tak masuk akal.

* Telepon
Salah satu cara untuk menghemat pemakaian telepon adalah dengan cara menggunakan sistem pemutus hubungan (timer). Dengan cara ini dalam hitungan sekian menit pembicaraan di telepon akan terputus. Agar tidak menimbulkan kesalahpahaman, jika Anda menghubungi klien, informasikan hal ini bahwa pembicaraan akan terputus dalam hitungan menit. Kalaupun telepon di kantor Anda tidak memakai sistem pemutus, biasakan untuk menyusun pembicaraan berdasarkan keperluan. Dan usahakan untuk menghentikan pembicaraan jika semua telah disampaikan. Sehingga pembicaraan tidak akan berkembang lebih jauh.

* Kendaraan
Buatlah jadwal pemakaian kendaraan seefektif mungkin. Misalnya dengan membuat jadwal pengiriman barang dan kunjungan sedemikian rupa. Sehingga pemakaian kendaraan kantor dapat lebih efektif dan optimal. Bicarakan masalah ini pada rekan-rekan di kantor, mungkin saja jadwal kegiatan di luar bisa digabung dengan beberapa rekan lain yang memiliki kepentingan serupa.

* Daur ulang
Kalau memang memungkinkan, peralatan yang biasanya langsung dibuang jika sudah dipakai, kini jangan langsung dibuang. Misalnya disket dan kertas bisa didaur ulang pemakaiannya. Tapi hati-hati jangan sampai pemakaian daur ulang disket menyebabkan hilangnya data yang penting.
Ingat, semua memiliki andil dalam penghematan fasilitas atau sarana di kantor. Karena kelangsungan tempat Anda mencari nafkah bukan tergantung pada satu individu melainkan semua pihak. Jadi, kata kuncinya ya selalu hemat!

Sumber : GloriaNet

Jika Rasa Bosan Kerja Datang

Kebosanan kadang kala datang menyergap dalam bekerja. Penyebab yang paling umum adalah Anda merasa bahwa pekerjaan tersebut sudah tidak lagi menantang dan kerja tersebut menjadi suatu rutinitas yang begitu mudah dan cepat diselesaikan.

“Apa yang bisa saya kerjakan lagi selanjutnya?” Begitulah pertanyaan yang datang seiring perasaan bosan tersebut. Anda merasa seperti tidak ada pekerjaan dan bertambah bodoh.

Bertolak belakang dengan kenyataan tersebut, rekan kerja Anda lainnya mengalami kelebihan beban pekerjaan. Akan tetapi, pekerjaan mereka bukanlah bidang yang Anda kuasai. Jadi, rasanya tidak mungkin Anda menawarkan bantuan.

Menghadapi situasi ini, tentu saja Anda merasa serba salah dan tidak enak hati kepada diri sendiri, rekan kerja atau pihak perusahaan tempat Anda bekerja. Bisa saja kemudian Anda menyisiatinya dengan berpura-pura sibuk. Tapi bagaimana kalau ketahuan dan kemudian ditegur oleh atasan Anda. Bukankah ini memalukan? Lebih repot lagi jika setelah atasan Anda mengetahui, dia memberikan pekerjaan lain yang mungkin bukan bidang yang Anda kuasai dan Anda benar-benar tidak menyukai pekerjaan tersebut.

Nah, apa yang harus Anda lakukan ketika kondisi ini datang menyergap? Ada tiga model langkah yang dapat Anda lakukan.

Pertama, Anda mengambil langkah positif. Yaitu, jika Anda merasa sudah nyaman bekerja di perusahaan yang sekarang dan merasa jika Anda harus pindah kerja maka harus melalui proses adaptasi lagi, maka langkah terbaik adalah mengembangkan kemampuan diri pada bidang lain.

Jadi, ketika atasan Anda memberikan pekerjaan lain, Anda sudah bisa mengerjakannya. Toh suka atau tidak, tidak ada salahnya Anda mempelajari semua pekerjaan yang diberikan oleh atasan Anda. Tentu untuk melakukan semua itu dibutuhkan pikiran positif bahwa Anda dapat memperkaya keahlian dan kemampuan Anda, serta menjadi nilai tambah jika suatu saat nanti Anda dipromosikan ke jabatan baru atau saat melamar kerja di tempat lain.

Jika atasan Anda tidak mengetahui permasalahan Anda ini maka cobalah secara pro-aktif datang kepada atasan. Jelaskan keadaan yang sedang Anda alami dan carilah solusinya bersama-sama.

Langkah kedua adalah langkah netral. Artinya, Anda harus senantiasa memberikan bantuan pada rekan lain yang sedang kelebihan beban kerja. Meskipun bidang tersebut tidak Anda kuasai, Anda bisa membantu sebagian kerja mereka seperti bidang administrasinya. Langkah ini diambil jika atasan Anda tidak tahu harus memberikan pekerjaan apa lagi untuk Anda.

Langkah ketiga adalah langkah ekstrim. Langkah ini dilakukan bila dua alternatif tadi tidak memuaskan Anda. Apalagi jika Anda merasa mempertahankan pekerjaan sekarang sudah tidak banyak gunanya. Maka Anda harus bersiap untuk keluar dan mulai mencari atau melamar pekerjaan di perusahaan lain. Ini langkah terbaik yang dapat Anda ambil, sebelum Anda menjadi stres dan bisa jadi kemudian mengalami depresi.

Sumber : GloriaNet

Manajer Madya, Pemain “Lapangan Tengah” Yang Selalu Dibutuhkan

Manajer madya, atau middle-manager, merupakan jenjang yang harus dilewati dalam perjalanan seorang manajer profesional menuju kursi eksekutif puncak. Ibarat pemain lapangan tengah dalam pertandingan sepak bola, manajer madya harus mampu menerjemahkan policy dari manajemen puncak ke dalam langkah-langkah operasional di lapangan, serta memberikan umpan balik yang diperoleh dari lapangan ke manajemen puncak.

Ini membuat posisi manajer madya menjadi penting, karena mereka harus menjembatani antara boardroom decisions dan kenyataan di lapangan. Berbeda dengan manajemen puncak, yang cenderung untuk mengambil keputusan-keputusan strategis yang menentukan kebijakan dan arah perusahaan atau supervisor/frontline manager yang bisa langsung memberikan komando kepada anak buah yang dipimpinnya, manajer madya harus mampu mengarahkan dan mengkoordinasikan kegiatan para front-line managers yang berada di bawahnya sesuai dengan strategi dan kebijakan yang digariskan manajemen puncak.

Bagi mereka yang sedang meniti karier, promosi ke tingkat manajer madya bisa merupakan indikasi bahwa perusahaan menaruh perhatian kepada mereka, karena posisi ini sering digunakan sebagai ujian para kandidat sebelum mereka dipromosikan ke posisi yang lebih senior. Tapi, apa sebenarnya yang diharapkan perusahaan dari manajer madya?

* * *

Dua belas tahun yang lalu, ketika saya masih menjadi wartawan di harian ini, saya pernah menurunkan tulisan tentang manajer madya yang dimuat sebagai laporan utama Kompas Minggu, 11 Juni 1989. Waktu itu, para pakar dari sekolah-sekolah bisnis di Indonesia dan eksekutif-eksekutif puncak perusahaan nasional, multinasional, serta BUMN yang saya temui umumnya sepakat bahwa program MBA bisa sangat membantu untuk meningkatkan kemampuan para manajer madya. Khususnya, program MBA dinilai bermanfaat dalam memberikan wawasan business skills secara sistematis, sehingga bisa memperpendek waktu yang diperlukan untuk mencapai jenjang ini.

Namun setelah saya sendiri mengikuti program MBA dan PhD di AS, terjun sebagai eksekutif di perusahaan multinasional, serta menjadi pengajar di salah satu program MBA di sini, saya melihatnya dari sudut pandang yang agak berbeda. Business skills, yang diberikan dalam program MBA, umumnya lebih banyak menekankan pada hard skills seperti manajamen keuangan, akuntansi, produksi, dan pemasaran, sedangkan studi-studi kasus yang diberikan lebih bersifat komprehensif dan dibahas dari sudut pandang manajemen puncak.

Jadi program MBA lebih banyak mempersiapkan pesertanya untuk menjadi general manager. Padahal manajer madya umumnya masih berperan sebagai functional manager, yang menuntut penguasaan functional skills lebih dalam dari yang diberikan dalam program MBA, tapi belum membutuhkan kajian komprehensif ala manajemen puncak.

Tak kalah pentingnya adalah penguasaan soft skills seperti leadership, komunikasi, dan negosiasi, karena manajer madya bukan saja harus memimpin manajer-manajer lain yang bertanggung jawab kepadanya, tapi juga harus mampu menjalin komunikasi ke segala arah yaitu dengan atasan, bawahan, dan manajer-manajer madya lainnya yang sejajar. Lalu, bagaimana caranya perusahaan mengidentifikasikan calon manajer madya yang potensial?

* * *

Masalah utama yang dihadapi perusahaan dalam menyeleksi calon manajer madya biasanya tidak terletak pada kemampuan fungsional manajer yang bersangkutan, yang umumnya sudah teruji pada posisi sebelumnya. Biasanya yang dianggap penting adalah kesesuaian prinsip dan nilai-nilai dasar sang calon dengan budaya dan nilai-nilai dasar perusahaan, mengingat posisi ini bisa membuka jalan untuk naik ke jenjang yang lebih tinggi, dan manajemen tentu tidak menghendaki perusahaan kelak dipimpin oleh orang yang nilai-nilai pribadinya tidak cocok dengan perusahaan.

Kedua, yang bersangkutan diperkirakan bisa diterima oleh lingkungan tempatnya bekerja, khususnya dalam posisinya yang baru. Di sini faktor-faktor yang berkaitan dengan <<soft skills>> tadi memegang peranan penting ditambah dengan penilaian tentang wawasan atau visi sang calon dalam mengembangkan bisnis.

Ketiga, track record dari kandidat yang bersangkutan, karena past behavior is a good indicator to predict future behavior. Ini dilakukan bukan hanya dengan melihat curriculum vitae sang kandidat, tapi juga melalui reference checking dengan orang-orang yang mengenal sang kandidat dari dekat, sehingga bisa diperoleh gambaran yang komprehensif tentang kemampuan profesional dan cara kerja yang bersangkutan.

Kemampuan untuk mendeteksi hal-hal ini merupakan beban dari bagian human resources, yang sering kali sudah terlalu sibuk mengerjakan tugas-tugas rutin mereka. Alternatifnya adalah melakukan outsourcing dengan menggunakan jasa executive search profesional untuk mendapatkan kandidat yang sesuai dengan pertimbangan kemudahan, kecepatan, ketepatan, dan sering kali juga lebih efisien dan cost-effective.

Sumber : GloriaNet